JILID III


           Memutuskan untuk menikah merupakan suatu keputusan yang teramat sulit. Dimana kita harus mengakhiri masa kebebasan dan masa kesendirian. Namun, dibalik itu semua, kita terbayarkan dengan rasa suka cita, kegembiraan yang sanggat luar biasa nikmat nya . menjadi halal kepada sang imam , menjadi panutan untuk kelak sang buah hati.
Tidak semua pasangan yang menikah atas dasar cinta. Tak banyak juga mereka menikah karna ada hal lain selain atas dasar saling mencinta. Banyak juga orang yang beranggapan jika cinta akan tumbuh seiring jalannya waktu.Akan bebunga jika saling sama-sama menjalani dan ingin mencoba.
Keindahan Rumah tangga juga tidak dapat diukur dalam segi materi. Namun dapat kita rasakan indahnya rumah tangga jika kita saling menyayangi satu sama lain.
Kunci dalam setiap hubungan maupun itu rumah tangga yaitu tinggi nya rasa percaya kepada pasangan, saling jujur tanpa ada sedikitpun yang tertutupi, dan saling menghormati.
Tak pernah terfikir sedikitpun bila akhirnya aku memutuskan untuk menikah dengan laki-laki yang baru  6 bulan ku kenal. Yang aku fikirkan saat itu adalah aku harus memulai kehidupan baru, aku harus memulai lembaran baru dan aku harus belajar mencinta dengan cara baru. Semua serba harus baru ku lalui.
Nama ku Diandra, para teman –teman meyapaku dengan sebutan die. Aku hidup di Indonesia sebatang kara. Aku berani memutuskan untuk melanjutkan study S1 ku di ITB Bandung. Sedangkan orang tua ku berada di Belanda sejak aku sekolah dasar. Bagiku tanah air adalah kecintaan dan tiada terganti.
Setelah menikah kehidupanku berubah 180 derajat. Kini tidur tak sendiri, ranjang tak lagi sepi. Setiap pagi kecupan mesra di kening tak pernah lupa untuk mengawali hari. Sungguh indahnya pengantin baru.
Suamiku bernama Hilal Pratama. Seorang Direktur muda disalah satu perusahaan swasta di Jakarta. Laki-laki yang ku cintai ini berpostur badan tinggi, behidung mancung, berkulit putih dan berkacamata. Banyak wanita yang mengidamkan lelakiku, dan aku sanggat lah beruntung menjadi istrinya. Itulah ujar dari para teman-temanku.
Kami menikah 23 Juli 2012, dimana hari itu adalah tepat di hari ulang tahunku. Sungguh perasaan yang tak dapat ku jabarkan ketika Hilal berjhabat tanggan dan berkata “ saya terima nikah dan kawinnya”. Hati ini bergetar kencang serasa nafas terhenti sejenak. Dan saat itulah kebahagiaan yang tak tertandingi ku rasakan dalam hidup ini.
Awal pertama aku berkenalan dengan Hilal, ketika aku ditugaskan untuk bekerja sama dengan perusahaan yang hilal pimpin. Hilal typecal laki-laki yang mudah bergaul dan mudah menarik perhatian lawan jenisnya. Saat itu hanya kagum yang ku rasa, namun dengan seiring berjalannya waktu kagaum ini berubah menjadi butiran rindu. Karna saat itu juga hubungan kerjasama perusahaan kami telah berakhir.
Meski tak satu job lagi, Hilal masih sering mengajak aku bertemu walau sekedar makan malam. Kali ini dia berbeda, dia menulis memo dan menitipkannya kepada sekertarisku “ Temui aku di taman Pinus jam 8 malam, jangan kabariku, jangan kirim pesan atau pun tlp. Aku tunggu kedatanganmu”. Penasaran apa sebenarnya maksud Hilal ini, tak sabar juga ingin segera ku temuinya.
Ku temui dia ditaman itu, ku lihat dia sedang duduk dan beberapa kali memperhatikan sekitar taman. Seperti pertanda sedang gelisah menunggu kedatanganku. Kuhampiri dia dan ku tanyakan mengapa dia meminta aku menemuinya. Dia menatap mataku dengan teramat serius, dan dia berkata “ die, sejak pertama aku melihat dan berkenalan denganmu, sejak itu pula tidurku selalu terganggu oleh bayang wajahmu. Semakin ku ingin lepas dari bayangmu, semakin aku menginginkanmu. Aku meminta dengan setulus hati, Mau kah kamu menjadi istri ku ? tak ada keraguan untuk ku kepada dirimu, aku sungguh sangat mencintaimu”
Tak mampu ku berkata membalas kata-kata cinta yang sanggat indah didengar itu, ku hanya mengganggukan kepala ku mengisyaratkan jika aku mau. Betapa bahagia nya Hilal ku lihat dengan pancaran wajahnya, dan kemudian Hilal memasangkan cincin di jari manisku. Kita baru berkenalan selama 4Bulan, dan Hilal tidak memintaku menjadi kekasihnya, melainkan memintaku untuk menjadi istrinya.
Hanya butuh 2 Bulan kita ber dua mempersiapkan prosesi dan presefsi pernikahan kami. Hilal pun kembali melamar aku di rumah orang tua ku di Belanda. Lagi-lagi ku bersyukur karna Aku memiliki mamah dan papah mertua yang sanggat merespond baik kehadiranku.
Setelah menikah sempat ku berfikir untuk mengakhiri karirku, namun ku fikir lagi, ada baiknya jika ku masih terus berkarir hingga Tuhan menitipkan anugrah terindahnya kepada kita berdua.
Meski telah menikah, namun sikap aku dan hilal tetap seperti pasangan yang baru jadian pacaran. Mulai dari BBM, dan tlp pun tak pernah lepas komunikasi kita ber dua. Hilal memanggilku dengan panggilan sayang nya yaitu “say”, aku memanggilnya dengan sebutan “bee”.
“say, hari ini aku pulang malam, ada metting diluar dengan client mendadak. Kamu pulangnya hati-hati yaa…”. “ okey bee, kamu jangan genit sama client ya. Love you so much “.. “tenang say, gak ada wanita yang lebih cantik dari istriku ini, love you too “.
Sepulang kantor ku langsung membereskan rumah, aku memilih untuk tidak memakai jasa pembantu karna ku fikir ku masih mampu menyelesaikannya sendiri. Menantikan suami ku pulang sambil ku menonton acara televisi. Ketika dia sampai dirumah, dia langsung mengajakku dengan terburu-buru untuk shalat isya berjamaah. Begitu lah Hilal, aneh. Setelah itu ku siapkan makan malam dan kami segara beristirahat dikamar.
Sudah memasuki bulan ke Empat, blm ada tanda-tanda kehamilan ku. Aku dan Hilal sanggat mengharapkan kehadiran sang buah hati, namun Hilal tak hentinya meminta untuk ku bersabar dan berpasrah atas semua kehendak Allah.
Clara sahabat ku menjemputku pagi ini, mobilku mendadak rusak, dan suamiku sudah berangkat kekantor pagi-pagi sekali. Clara ini adaah seorang single parents . Suaminya telah meninggalkan dia untuk selama-lamanya sejak 1 Tahun pernikahannya. Kala itu pesawat yang dikendarai almarhum suaminya itu lepas landas dan terjatuh di atas hutan rimba. Suami nya adalah seorang pilot muda. Dari pernikahan mereka Tuhan Menghadiahkan Seoarang Putri cantik yaitu bernama Kayla. Sekarang usia Keyla baru berumur 8 Bulan, dan gadis munggil ini tumbuh tanpa adanya figure seorang ayah.
Clara adalah mantan sekertarisku yang kini menjadi Head Marketing dikantor ku, sedangkan aku Manager Marketing. Tak heran jika aku dan clara selalu bersama karna pekerjaan kami memang saling berkaitan.
Sejak tadi pagi sampai jam makan siang tak ada satu pun pesan dari Hilal. Kemana dia ? sesibuk itu kah ? , fikiranku melayang, hatiku bertanya, khayal dan anggan kotor hampir merasukiku. Segera ku keluar ruangan untuk mencari Clara, mengajaknya untuk makan siang. Ketika ku baru saja membuka pintu, ku terkejut karna suami ku berada tepat di depan pintu ruanganku. Dia memberikanku setangkai mawar putih dan coklat kesukaanku. Aku pun terkejut dengan semua itu. Ampuni aku tuhan, karna sempat ku berfikir macam-macam tentang suamiku ini.
Siang ini kami makan siang bersama dengan Clara, tak jauh dari kantor ku. “Bee, kamu ko bisa kekantor aku, jauh loh jaraknya, dan tadi kamu bukannya metting ?” tanyaku kepada Hilal “kalo untuk kamu aku selalu bisa dong say, iya aku udah selesai dari jm 10, makanya langsung ke kantor kamu karna searah say” jawab Hilal menanggapi pertanyaanku. Sedang Clara sibuk menelpon mamahnya untuk menanyakan kabar si cantik Kayla. Dan makan siang ini berakhir, Hilal kembali kekantornya dan aku kembali ke kantor bersama Clara.
Satu tahun telah berlalu, Rahimku masih kosong, Rumahku masih sepi, tak terdengar tanggisan bayi yg menghiasi rumah. Aku dan Hilal selalu usaha dan Berdoa agar Allah selalu mempermudahkan kami untuk memiliki keturunan. Selama Satu tahun pernikahan kami, tak ada yan berubah, semua masih sama, masih seperti sejak pertama menikah. Bahagia, romantis,dan tanpa sedikitpun masalah. Semua berjalan mulus, lurus dan apa adanya.
Begitu pun dengan sahabatku Clara, dia masih seperti dulu. Menjalani kehidupan dan merawat buah hatinya seorang diri. Baginya Hidup itu sekali, jatuh cinta sekali dan menikah sekali seumur hidupnya. Dia berjanji tidak akan menikah lagi, dia percaya jika Allah akan mempertemukan dia dengan almarhum suaminya di surga kelak.
Hujan lebat malam ini menemani tidur kami. Situasi dikamar pun sepi, hanya terdengar suara jemari suamiku yang masih saja sibuk bekerja. Ku buatkan teeh hangat untuknya. Dan Hilal mengajakku untuk duduk disampingnya.
Hilal : say, kalau aku mau kamu resign saat ini kamu keberatan gk say ?
Aku : Kenapa kamu mau aku resign gitu bee ?
Hilal : sebetulnya udah dua hari ini aku pusing say, Perusahaanku menawarkan aku untuk study s3 di German. Yang membuat aku tertarik, hanya 3 tahun aja aku kuliah di german, aku dapat acceleration cllas say. Tapi aku gk mungkin pergi tanpa kamu.
Aku : bee, sudah tugasku mendukung apa pun yang ada di hidupmu, sudah kewajiban aku untuk ikut kemana pun kamu pergi meski itu mengkorbankan karir aku di sini. Aku gak peduli itu, yang terpenting bagaimana cara nya aku agar bisa terus sama kamu bee. Aku sanggat bahagia, dan bangga, karna lelakiku yang jelek,rese ini mendapat kesempatan brillian.
Hilal : kalo aku gak jelek kamu gak mungkin mau aku ajak nikah, hahaha…  okey okey aku terimakasih sama kamu kalau kamu mau mengkorbankan karirmu, akhir bulan ini kita bisa terbang ke german, kita mulai hidup dari awal lagi .
            Setelah percakapan malam itu, ku terus berfikir sendiri. Sejujurnya aku lebih suka hidup di Indonesia, namun aku harus tetap ikut dengan suamiku. Aku harus kembali meninggalkan Tanah Air ini, meninggalkan semua kenangan yang terjadi disini, dan aku harus mempersiapkan diriku untuk memulai kehidupan baru lagi bersama suamiku di Negri Orang.
Ku ceritakan semua nya kepada sahabatku Clara, clara sanggat mendukung ku, namun dia juga sedih karna pasti aku dan dia pasti gak bisa untuk sering-sering jalan bersama seperti sekarang ini. Aku belum mengajukan surat pengunduran diriku ke perusahaan, yang ku lakukaan saat ini adalah merapihkan seluruh pekerjaan ku.
            Hilal sibuk mengurus segala dokumen-dokumen terkait untuk keberangkatan kami ke German, dia pun sibuk berbelanja keperluan apa saja yang akan kita bawa untuk menetap disana.
            Pagi ini aku mengajukan surat pengunduran diriku kepada CO di perusahaanku. Dengan berat hati CO ku meng iyakan permintaan ku ini. Aku pun berpamit kepada seluruh crew, seluruh karyawan, dan seluruh rekan-rekan kerja lainnya. Mengharu biru suasana pagi itu.
            Hilal pun sama, pagi ini dia mengambil surat dan berpamitan kepada seluruh karyawannya, dia juga berterimakasih karna dia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan S3 di German.
            Di German kami berdua mendapatkan fasilitas Apartemen di pusat kota. Meski tak semewah rumah ku di Indonesia, aku cukup nyaman untuk tinggal didalamnya. Malam pertama di German aku sibuk mempelajari bahasa. Karna keterampilan bahasa german ku sanggat rendah. Ke Mini Market saja aku hanya berbicara menggunakan bahasa isyarat, bersyukur jika bertemu dengan orang yang bisa berbahasa Inggris.
            Pagi ini Hilal memulai study nya, aku hanya bisa berdiam diri di appartemen karna ku takut tersesat jika ku jalan-jalan.
Hilal : say aku berangkat dulu yaa, kamu kalau mau jalan-jalan jangan jauh-jauh dulu ya, dan jangan lupa kalau mau pergi kabari aku.
Aku : iya, kamu hati-hati ya, yang konsen gak usah mikirin aku, aku gk kemana-mana ko say.
            Tetangga ku bernama Maria, dan dia juga berasal dari Indonesia, Ku mendekatkan diriku dengan Maria, dan ternyata maria adalah pribadi yang mudah diajak bergaul. Komunikasi kita pun tidak sulit karna maria bisa berbahasa Indonesia. Maria mengajakku untuk jalan-jalan mengelilingi pusat kota, namum ku katakan jangan saat ini, karna aku berjanji kepada suamiku untuk tidak berpergian.
            Dikampus Hilal berkenalan dengan Thomas, Dimas, dan James. Mereka satu Fakultas di sana. Namun hanya dimas yang beragama muslim.  Aku hanya asik bermain social media dikamar sambil berharap Hilal akan segera pulang. Sedangkan Maria pergi keluar bersama kekasihnya yaitu Robert.
            Sesampainya dirumah, Hilal menceritakan kepada ku hari pertamanya study. Dia berkata di kampus sangat sulit untuk shalat, dia harus berjalan dulu keluar kampus dan mencari Masjid yang jaraknya cukup jauh dari kampus. Dia juga bercerita jika teman-temannya mengajak makan siang, dan ternyata makanan itu tidak halal, bersyukur hilal menyakan apa yang ingin dia makan. “ sanggat sulit hidup di negri orang “ eluhnya..
            Ku berusaha mengkuatkan dia, ku coba meyakini dia jika dia mampu bertahan dan lambat laun akan terbiasa. Hanya saja kita harus lebih selektif dalam memilih makanan. Ku tenangkan dia, ku tak inign dia menyerah untuk mengejar mimpinya ini. Aku harus tetap berusaha.
            Ku perkenalkan Maria dengan Hilal, dan hilal bersyukur karna aku sudah memiliki teman. Malam ini Hilal mengajakku jalan-jalan sekitar Kota. Subhanallah.. memang sanggat indah. Hilal juga menunjukan Swalayan untuk aku membeli makanan, Hilal juga menunjukan bagaimana cara ku untuk bisa membaca petunjuk jalan agar aku tidak tersesat.
            Selang satu bulan kami tinggal di sini, kami mulai terbiasa dengan situasi, kondisi, yang ada di negri ini. Aku pun sudah berani untuk keluar tanpa Hilal. Bahasa German ku pun sudah mulai ada peningkatan. Kegiatan ku saat ini adalah, jalan-jalan berkeliling menikmati indahnya kota ini, berbelanja sayuran dan memasak masakan kesukaan suami tercinta ku ini.
            Sudah 2 jam aku berdiri di tempat pemberhentian Bus, saat itu Hujan agak lumayan lebat. Aku baru saja membeli beberapa kebutuhan dapur. Tiba-tiba ada seorang laki-laki menghampiriku,
Laki-laki itu “ hay, kamu Diandra ? kamu ngapain disini. Masih ingat saya kah ??
Kuperhatikan wajak laki-laki ini, dan ketika mata kami saling bertemu serasa jantung ku berdetak kencang sekali. Badanku bergetar hebat. Dia adalah Rangga, mantan kekasihku.
            Singkat cerita, Rangga adalah teman sekampusku dulu di Bandung. Dari pertemanan itu kami menjalin hubungan kekasih selama 4 tahun. Begitu indah masa-masa aku dengan rangga. Dan 4 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk kita menjalani hubungan ini. Kesamaan sikap kita, Moto Hidup kita dan itulah penguat dalam hubungan kita dulu, se iya se kata.
            Rangga juga pernah melamar ku, menghadiahkan cincin dihari ulang tahunku. Berjanji untuk hidup berdua, untuk hidup menua bersama ku. Rangga bukan tipe orang yang romantic, rangga adalah seorang laki-laki dingin dan cuek. Karna sifatnya itulah aku sanggat mencintainya.
            Namun apalah arti lamaran itu, apa lah arti cincin yang melingkar dijari manisku. Disaat manis-manisnya kita menjalani sebagai sepasang kekasih, Rangga memutuskan dengan alasan yang tak pasti. Dia memutuskan untuk mengakhiri semua nya denganku. Dia juga meminta ku untuk mengubur dalam-dalam mimpi indah ini. Rangga menyudahi begitu saja hubungan yang telah kita jalani selama 4Tahun. Ku coba perjuangkan, ku coba pertahankan. Namun tetap saja keingginan keras nya untuk berpisah denganku. Seketika itu rangga menghilang pergi jauh dari hidupku. Ku tertatih, terlunta-lunta mencoba memulai hari tanpa nya.
            Ku sempat berjanji untuk tidak membuka hatiku kepda siapa pun, karna bagiku tak ada cinta selain rangga, sampai pada akhirnya aku dipertemukan dengan Hilal yang kini menjadi suamiku.
Rangga : “ Hey, ko bengong sih..”
Aku : “ rangga , kamu ngapain disini, subhannallah setelah sekian lama kita gk ketemu akhirnya kita bisa jumpa kembali”
Rangga : “ Aku kuliah disini, udah 3 tahun aku disini Die”
Rangga meminta maaf kepadaku atas semua kesalahan-kesalahan yang telah dia buat, yaitu pergi meninggalkan aku.
            Kita ber dua akhirnya mampir ke satu resto untuk menghangantkan badan, kita juga saling bercerita apa yang kita lakukan pada saat kita berpisah gitu aja. Rangga bilang dia pun tertatih untuk melupakanku, dan sampai sekarang dia masih blm bisa melupakan aku, bahkan dia tidak memiliki kekasih selain aku. Rangga memang laki-laki yang sangat sulit untuk jatuh cinta. Setiap kali rangga bertanya apa yg ku lakukan disini, ku menjawabnya untuk berjalan-jalan. Entah kenapa lidah ku terasa berat untuk berkata jujur sedang apa sebetulnya aku disini, dan aku pun sungguh sanggat berat untuk berkata jika aku sudah memiliki suami.
            Sepulang berbincang dengan Rangga, Hilal sudah menungguku dengan cemas di Appartemen, karna memang Hp ku lowbet sehingga dia tidak bisa menghubungiku. Tanpa ragu ku memeluk nya, ku berkata jika aku sanggat mencintainya, yaa aku sanggat mencintainya. Hilal binggung atas sikap ku ini. Karna tak seperti biasanya aku mengucapkan kata-kata seperti itu. Aku sungguh sanggat berdosa karna ku tak bisa berkata jujur jika aku bertemu rangga, dan aku pun tak dapat jujur jika aku sudah menikah dengan Hilal. Tuhan ampuni aku..
            Ke esokan harinya aku berkunjung ketempat-tempat sejarah yang ada di German. Siapa sangka jika aku bertemu kembali dengan Rangga. Dan akhirnya kita berjalan bersama mengunjungi tempat sejarah ini. Seperti terualng dimasa lalu ketika aku dan Rangga sering menghabiskan waktu bersama. Tak ku pungkiri aku merasa bahagia bersamanya. Dan ternyata cinta ini masih ada, aku pun merasakan cinta yang begitu besar sama seperti dulu dari rangga. Semua tidak berubah.
            Tersadarku jika aku telah menikah, aku langsung pergi berlari begitu saja meninggalkan Rangga. Rangga sempat mengejarku namun ku meminta untuk rangga tidak menahanku. Aku langsung menuju appartemen ku, ku menangisi atas semua perasaan ini. Perasaan apa lagi ini ? aku sungguh sangat berdosa jika aku masih mencintai rangga, cinta ku tak boleh terbagi. Aku sanggat mencintai Hilal, ya aku sanggat mencintai Hilal. Hati ini tak bisa ku ajak berkompromi, tetap ku merasa jika ku jatuh cinta kepada keduanya.
            Ku menelpon Hilal untuk segera pulang. Dan hilal pun dengan segera kembali pulang karna khawatir dengan keadaanku.
Hilal : Kamu kenapa say ? kenapa kamu nangis dan sampai tlp aku ? ada yg jahat sama kamu ?
Aku : sambil menangis terisak-isak “ Hilal aku mau pulang, aku mau kembali ke Indonesia, aku gak mau disini Hilal. Aku gak bisa disini. Maafin aku Hilal..”
Hilal memelukku, mencoba menenangkan emosi ku “ sayang, aku tahu kamu pasti bosen ya, kamu gak terbiasa dengan kehidupan disini, kamu juga pasti jenuh karna kamu gak ada kegiatan ya sayang. Tapi dengerin aku ya, aku bertahan dan kuat karna kamu, kamu adalah satu-satunya alasan aku untuk meraih semua nya, kamu juga yang mengkuatkan aku. Kamu jangan nyerah dong say, kamu pasti bisa bertahan ya sayang”. Dalam hati ku berkata “ bukan itu hilal, aku takut jika aku disini, cinta ku benar-benar terbagi dengan rangga.maafin aku hilal”. Ku coba untuk menenangkan fikiranku dan ku coba kembali menahan diriku untuk pulang ke Indonesia. Aku harus bisa jujur, yaa aku harus jujur.
            Hari ini Hilal Libur, dia mengajakku ketempat kulaihnya, aku ditunjukan beberapa ruang. Kampus ini sanggat megah,mewah,dan besar. Ku diperkenalkan pula dengan teman-temannya. Teman-temannya memujiku, kata mereka Hilal beruntung mendapatkan istri secantik aku. Jadi tersipuh malu.
            Disaat aku berjalan keluar meninggalkan gedung itu, terdengar suara laki-laki memanggil namaku. Ku tenggok kebelakang dan ternyata Rangga yang memanggilku. Aku terkejut karna ternyata rangga 1 Unniversity bersama suamiku. Rangga langsung menyapaku dengan akrabnya, dan dia bertanya apa aku kuliah disini. Aku gagap dan binggung menjawabnya, Hilal memperhatikan Rangga dari ujung kepalanya hingga ujung kaki.
Aku : “ ah, iya iya.. eh maksudku kenalin rangga, ini Hilal Suami ku, dan Bee kenalin ini Rangga “
Rangga heran dan keget mendengar itu, Hilal pun sama demikian. Hilal tau Rangga adalah mantan pacarku, namun baru ini dia melihat secara langsung. Sedangkan Rangga tidak mengenal Hilal karna aku tak pernah bercerita sama sekali kepadanya.
            Setelah mereka berkenalan Rangga meninggalkan aku dan Hilal dengan alasan ada Cllas. Hilal bersikap biasa saja dan malah mengajakku untuk jalan-jalan. Jujur ku merasa tidak enak hati kepada Hilal, namun entah kenapa Hilal tidak membahas atau menanyakannya kepadaku.
            Di kamar baru dia bertanya kepadaku mengenai Rangga,
Hilal : Die, tadi itu rangga mantan pacar kamu ?
Aku hanya mengangggukan kepala isyarat iya,
Hilal : sebelumnya kamu udah tahu dia disini ?
Kembali ku menganggukan kepala
Hilal : kamu kenapa gk cerita sama aku die, kamu yang bilang kalau kita itu harus saling jujur terbuka satu sama lain.  Selama aku study kamu jalan sama dia die ? kamu gk kasih tau kalau kamu udah nikah ? kamu gak mengakui aku die ? jawab die, jawab.
Aku : maafin aku Hilal..
Hilal : Tega kamu die,
Aku : Sebetulnya aku mau jujur sama kamu kalau aku itu ketemu sama rangga, Cuma aku nunggu waktu yang tepat. Hilal tolong kamu percaya sama aku, aku sama rangga Cuma gak sengaja ketemu waktu aku kejebak ujan. Hilal tolong percaya ya, jangan buat aku tambah sulit.
Hilal : waktu yg seperti ini kamu bilang waktu yang tepat ? jangan buat kamu tambah sulit, jadi aku hanya buat kamu sulit aja gitu ? iya gitu ya ? sulit ya ?
Aku : Hilal, bukan maksud aku seperti itu. Please bellive me honey, be love you full, be love you so much.
Hilal mengangkat wajah ku dan menatapku “ apa kamu masih mencintai dia ? jawab jujur die ..”
Aku : Hilal aku hanya mencintai kamu, aku dan dia hanya masa lalu. Please Hilal.. aku sama rangga ketemu gk sengaja, jalan pun gak sengaja gak ada niat sama sekali.
Hilal langsung memelukku, aku pun larut dalam tangis di pelukkannya. Ku yakini Hilal pasti mengetahui perasaan ku kepada Rangga. Ku harus berusaha memngkubur rasa ini dalam-dalam dan tak kubiarkan cinta ku ini terbagi.
            Hari demi hari telah berganti. Ku fikir Hidup di German bersama suami tercinta akan manis untuk dijalani, namun kenyataannya tidak. Masalah demi masalah pun datang silih berganti, menguji seberata kuat kami bertahan. Menjadi pengangguran dan berdiam diri di appartemen membuat ku sanggat bosan, sering terlintas di benakku untuk kembali ke tanah air. Hilal begitu sibuk dengan pendidikannya, sampai terkadang aku merasa hidup seorang diri di Negri ini.
            Siang itu aku dan Maria berniat untuk datang ketempat Kursus bahasa German dimana Maria belajar, aku ingin mempelajari bahasa german dengan baik supaya aku bisa mendapatkan pekerjaan disini. Karna tak mudah untuk mencari pekerjaa, terlebih jika kita tidak menguasai bahasa german dengan baik.
            Dinegara Eropa ini sangat sulit untuk umat muslim mendapatkan makanan yang halal, jika kita tidak teliti dan tidak ingin mencari resto Halal maka kita tidak akan kita dapatkan makanan yang halal itu. Ku tahu sebetulnya hilal tak nyaman berada disini, jauh dari orang-orang soleh. Namun ini adalah sebagian dari perjuangan dan tanggung jawabnya, mengerjar ridho sang Illahi dan cita-citanya.
            Sesampainya aku ditempat khursus itu aku langsung mendaftarkan diriku. Aku sungguh ingin berniat untuk bisa dengan segera berbahasa German. uberlebt in der Familie unseres yang artinya Selamat Menjadi Bagian Keluarga kami. Yeah, aku harus bersungguh-sungguh supaya aku cepat bisa dan cepat mendapatkan pekerjaan.
            Sepulang nya aku langsung menuju kampus suami ku , ku lihat disekeliling kampus tak nampang Hilal. Lalu ku bertemu dengan Thomas,
Aku : Hay thomas, I’m the wife of Hilal. Did you see where Hilal?
Thomas : ohh yeah, your wife’s. I’m not see him. Get you speaking Germany ?
Aku : okay, ich will auf den Mond zu finden. Sie wissen, wo er ist?
Hilal : Ich hatte ihn mit Jasmine gesehen
Aku : die Jasmine ?
Hilal : fragen Sie Ihren Mann
Thomas pun langsung pergi meninggalkanku. Siapa itu Jamine ? kenapa Thomas seperti menyembunyikan sesuatu dari aku .
            Ku tunggu Hilal Di Appartemen, ketika dia pulang langsung ku tanyakan semua ini kepadanya.
Aku : Siapa Jamine ? tadi kamu kemana sama dia ? kamu gk kuliah ?
Hilal : Kamu tau dari mana Aku pergi sama Jasmine ?
Aku : tadi aku ke kampus , trus ketemu sama Thomas, dia yang kasih tau aku kalau kamu pergi sama Jasmine.
Hilal : dia teman kuliah aku, seru deh say, dia itu umat kristiani, dia mohon banget sama aku untuk ikut ke masjid. Iyasudah aku ajak dia ke masjid. Dia punya rasa ingin tahu yang besar tentang islam.
Aku : Oh ya ? bagus dong
Hilal : Sinis banget istriku ini, iyasudah iyasudah.. kamu masak apa hari ini ?
Hilal langsung meyudahi pembicaraan kami ini. Aku sejujurnya cemburu, namun aku harus percaya karna suamiku ini adalah tipe orang yang setia, dia tidak mungkin bermain cinta dibelakangku, dia juga memiliki iman yang kuat. Aku percaya itu.
            Suatu sore aku sedang duduk menghadap indahnya kota Vienna. Menantikan sunset dan menantikan suami tercinta pulang. Laki-laki yang datang dan langsung duduk disebelahku membuat ku terkejut, ternyata Rangga.
Aku : Rangga , maaf aku harus pergi (mencoba berdiri lalu rangga menahan tanganku )
Rangga : ngapain buru-buru Die, suami kamu pasti pulang malam, dia ada kelas tambahan. Aku mau bicara sama kamu Die
Aku : mau bicara apa lagi rangga, suami ku pasti marah kalau tau kita ngobrol kaya gini.
Rangga : Aku Cuma mau ucapin terimakasih Die, makasih kamu pernah jadi bagian hidupku, makasih karna kamu pernah buat aku jatuh cinta. Kamu tau gimana sulitnya aku untuk jatuh cinta. Kamu adalah pacar pertama dan terakhir kamu die. Aku gak akan menikah, aku gak akan mencintai orang lain. Aku menyesal die, kenapa dulu aku pergi gitu aja, dan sekarang kita udah gak bisa bersatu karna kamu telah menikah dengan Hilal.  Maafin aku karna masih mencintamu .
Aku : rangga, kamu gak boleh terus-terusan merasa bersalah, kamu juga gak boleh untuk menutup hati kamu. Kamu tampan, pintar, pasti banyak wanita diluar sana yang menyukaimu. Kamu harus tua dirawat oleh anak, cucu dan istrimu. Maafin aku juga rangga yang gak bisa untuk nunggu kamu. Kamu yang meminta aku menjauhimu, kamu yang minta aku untuk mencari laki-laki selain kamu. Sekarang kita udah berbeda, aku harap kamu mengerti rangga. Aku pergi dulu
Aku berjalan perlahan meninggalkan rangga. Tangis tak tertahankan, serasa melepaskan sesuatu yang sanggat kita sukai, membiarkannya untuk terbang tinggi. Rangga, ku akui cinta ini masih ada untuk mu, tapi aku harus setia dengan apa yang aku telah miliki saat ini. Terimakasih masalaluku.
            Sanggat berat kehidupan yang ku jalanani saat ini, jauh dari sahabat sanggat membuatku merasa kehilangan. Tak ada tempat untuk berbagi, semua ku telan sendiri. Ku coba untuk menelpon Clara, rupanya dia sedang bergegas untuk tidur bersama peri kecilnya. Ku ceritakan semua yang terjadi kepadanya, Clara menenangkan ku, dan menyadarkan aku jika aku tak boleh seperti ini. Aku harus tetap bertahan disini, mendukung suami ku hingga study nya berakhir.
            Hari ini rasanya sanggat lelah sekali, tanpa kusadari aku telah tertidur pulas ketika Hilal pulang. Hilal membangunkan aku dengan lemah lembut, dan ketika ku terbangun hilal ternyata memberikan aku setangkai mawar putih. Romantic sekali suamiku ini.  Aku selalu berdoa agar aku bisa memberikannya buah hati, namun rupanya lagi-lagi ku harus bersabar. Dua tahun hanya kita lewati berdua, tanpa adanya tangisan dari sang bayi.
            Minggu ini Hilal memberikan aku koda istimewa. Selama satu pecan ini Hilal mendapatkan Cuti untuk pulang ke Indonesia. Inilah yang sudah lama aku tunggu-tunggu. Come back to Indonesia. Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesampatan ini untuk bertemu dengan mamah mertua ku dan para sahabatku.
            Aku dan Hilal sengaja untuk tidak memberitahu siapapun tentang kepulangan kami ke Indonesia. Tujuan pertama kami adalah ketemu Mamah, aku sanggat rindu dengan mamah mertua ku ini. Dirumah mamah, beliau sanggat terkejut dengan kedatangan kami. Kami raut wajah yang bahagia pun kami lihat disini. Namun ketika mamah bertanya kepada ku apa aku sudah hamil, wajah ku berubah menjadi sedih dan tertunduk . Hilal menjelaskan dan meminta mamah untuk sabar.
            Dari rumah mamah kami menuju rumah Clara, sayangnya saat itu Clara sedang tidak ada dirumah.Aku dan Hilal bermain dengan si cantik Kayla. Kayla sudah besar sekarang, dia sudah bisa berjalan. Lucu nya anak ini. Saat Clara pulang kerumah, dia sanggat kaget dan heran melihat aku dan Hilal. Aku kangen sekali dengan sahabat ku ini.
Hilal meninggalkan aku dirumah Clara, dia harus ke kantornya untuk mengambil beberapa surat. Dirumah Clara aku menumpahkan semua air mata yang selama ini aku pendam, kesedihan yang selama ini aku telan sendiri. Betapa teriksanya hatiku selama aku di German. Clara tak bosan mengingatkan aku untuk selalu bersabar.
            Tidur dikamar, memasak didapur dan memakan makanan favorit yang tak bisa kudapatkan di german , sekarang ku rasakan kembali. Baru 3 hari aku di Indonesia, Hilal sudah mengajakku untuk pergi ke German lagi. Padahal jadwal Cuti dia sampai 1 Minggu, alasannya dia ingin mulai menyusun skripsi. Apa boleh buat, ku ikuti kemana pun dia pergi.
            Mungkin karna kelelahan kondisi badanku drop. Mual,demam,pusing dan tak ada tenaga sedikitpun. Setelah hilal berngkat kuliah, aku mencoba jalan perlahan menuju Hospital yang jaraknya tidak terlalu jauh dari appartmen ku. Ku ceritakan semua yang ku rasa pada tubuhku ini.
Aku : was meine Krankheit Arzt
Dokter : nein, nicht krank du bist, Herzlichen Glückwunsch, Sie sind schwanger.
Aku : oh my god, thank god, thank arzt. I’m verry happy.
Alhamdulilah.. dokter menyatakan jika aku Hamil. Ini adalah moment yang sangat aku tungu-tungu. Aku semakin tidak sabar untuk memberi tahu Hilal.
            Aku bergegas menuju kampus nya Hilal, dengan perasaan yang sanggat senang membuat ku lupa jika aku ini sedang tidak enak badan. Namun kegembiraan ku seketika hancur ketika ku melihat dan mendengar Hilal berbicara dengan seorang wanita sexsy dan cantik di gedung Belakang .
Wanita itu : come on, try again please.. ( ayo, tolong coba lagi )
Hilal : okay, wait. Mmmmmmbb...Liebe ,  oooh I'm very ashamed to say (oke, tunggu. Mmmmmmbbbb…..sayang, ooh saya sangat malu mengatakannya)
Wanita itu : calm down, comeon say it. (tenang, ayoo katakan itu).
Hilal : Ich liebe dich...
Wanita itu : Yeah.. sicherlich würde er gleich. Ich liebe dich to. ( yaa, pasti dia akan berkata yang sama, aku juga mencintaimu )
Percakapan apa yang kudengar saat ini,  apa maksud dari pembicaraan mereka. Siapa wanita itu.
Aku : (sambil berjalan mendekati mereka) jadi ini yang kamu bilang dikampus itu sibuk, banyak tugas, ini yang kamu maksud sibuk. Oh yaa kamu sibuk dengan wanita ini. Maaf Hilal aku sudah ganggu kamu. Silahkan jika kamu memang mencintai dia.
Hilal : (mencoba menggenggam tanganku ) say, kamu dengerin aku dulu jangan salah paham
Aku : apa Hilal ? kamu mau bicara apa ? Aku mau pulang.
Dan aku berlari meninggalkan mereka sambil menangis. Bagaikan tertusuk jarum hatiku, melihat dan mendengar sendiri suami yang aku hormati, suami yang aku cintai menyatakan cintanya kepada orang lain. Ku akui wanita itu sanggat cantik, dia sexsy. Tidak seperti ku.
            Aku langsung membereskan semua pakaianku, aku ingin pulang. Hilal datang bersama wanita itu dan menahanku. Mencoba menenangkan aku.
Hilal : Die, kamu gak boleh gini dong, buka mata kamu, kamu jangan salah paham. Kamu dengerin dulu penjelasan aku Die.
Aku : kamu mau apa lagi Hilal, aku sudah sanggat kecewa sama kamu. Tega kamu hianati aku.
Wanita itu : Diandra Pratama, aku meminta maaf, sejak pertama aku kenal dengan Hilal, jujur ku akui aku menaruh hati kepada suamimu ini. Aku memang mendekati suami mu dengan berbagai cara. Suami mu ini rupanya meyadari jika aku diam-diam menyukainya.  Dia menemui ku sesudah kelas. Dia bilang jika dia telah memiliki bidadari surganya, yaitu istri yang sangat dia cintai. Wanita itu adalah kamu Diandra. Hilal juga berbicara jika aku tidak boleh berharap kepadanya. Setelah pembicaraan itu aku berfikir diandra, aku tidak akan mencintai suamimu, aku juga wanita aku tidak ingin ada orang lain merusak hubungan rumah tangga aku nantinya. Aku tetap berteman dengan Hilal, hanya sebatas teman biasa. Aku jadi lebih sering bercerita tentang kehidupan ku, dan Hilal sering sekali bercerita tentang kamu. Aku harap kamu mengerti ya diandra.
Hilal : betul say yang diceritakan sama Jamine, aku gak ada hubungan apa-apa.  Gak mungkin aku membagi cinta aku die, percaya lah sama aku.
Aku : Jamine, aku minta kamu keluar ya dari kamarku, ini urusan rumah tangga ku , Bitte hier raus ( Silahkan pergi dari sini )
Jamine : Okey, saya akan pergi, permisi..
Hilal : maafin aku ya die, aku gak ada maksud untuk gk jujur sama kamu, aku Cuma ingin menjaga perasaanmu aja, aku gak mau kamu cemburu die.
Aku : sudahlah Hilal, lupakan saja. Aku cape aku mau tidur .
Niatku untuk memberi kejutan kepada Hilal sirna begitu saja, aku ingin Hilal tahu jika aku sedang Hamil. Namun rasa nya sulit untukku mempercayainya. Biarkan kupendam kehamilanku ini hingga waktu yang tepat untukku katakan.
            Pagi harinya, aku mencium aroma yang sanggat menyengat di penciumanku. Ku terbangun dan mencari aroma apa itu, rupaya hilal sedang memasak sarapan pagi untukku.
Hilal : guten Morgen honey, (selamat pagi sayang) nih aku udah masakin untuk kita sarapan, nasigoreng ala chef Hilal .
Aku : kamu gk kuliah ? ( aku langsung berlari menuju toilet, karna tak tahan dengan rasa mual ini )
Hilal : die kamu kenapa ? kita kedokter ya sayang.
Aku : No.. no.. aku gak apa-apa.
Hilal : serius say, ke dokter yaa.
Aku : aku gak apa-apa hilal, mungkin ini efek kehamilan aku aja.
Hilal : Hah ?? kamu hamil say ?
Aku : Hanya menganggukan kepala isyarat iya.
Betapa bahagianya ku lihat dari pancaran wajah nya Hilal. Sama seperti waktu dia melamarku di taman dulu. Akan ku jaga calon bayiku ini, terimakasih Tuhan....
            Ku coba untuk melupakan apa terjadi antara aku dan Hilal, ku mencoba mempercayai suamiku sepenuhnya. Aku berusaha yakin jika suamiku tidak mungkin menghianatiku, dia sanggat mencintaiku.
            Sore ini Hilal mengajakku bertemu di resto sepulang dia kuliah. Aku tentunya sudah berdandan cantik untuk menemui suamiku. Ketika ku sampai di resto, ku lihat Hilal sedang berbicara satu meja dengan Rangga. Apa maksudnya ?
Hilal : hay, gimana ? cape ya jalannya.
Aku : ko ini ada rangga juga ya ? kenapa nih ?
Hilal : gini say, sengaja aku temui kamu sama rangga disini, aku gak mau nantinya aku jadi cemburu buta sama kamu. Aku mau minta kejelasan aja tentang kamu sama rangga.
Aku : Irrenhaus  (sakit jiwa ). Aku sama rangga gak ada apa-apa , rangga hanya bagian dari masalalu aku. Kamu kenapa masih berfikir aku ada hubungan sama rangga, inget Hilal aku sedang Hamil anak kamu, anak kita. Jangan buat aku stres.
Hilal : Bukan gitu say, aku hanya ingin mengklarifikasi aja,
Rangga : gini gini loh Mr. Hilal Pratama. Gue sama Diandra itu sudah gak ada hubungan apa-apa. Kita sudah selesai saat loe menikahi dia. Kemarin-marin yaa gue sering ketemu, tapi itu hanya menjaga tali silahturahmi aja, gak lebih. Loe salah kalau loe berfikir diandra akan khianatin loe, dia itu wanita yang setia.
Hilal : okey okey.. kalau sudah seperti ini kan sudah jelas ya, berarti gk akan ada kesalahpahaman lagi diantara kita bertiga.
Aku : Hilal, aku mau pulang.
Sempat kesal dengan sikap hilal seperti tadi, sama saja dia tidak mempercayai aku. Sama saja dia masih mencurigai aku. Namun sudahlah, mungkin karna dia terlalu cinta jadi dia cemburu buta seperti itu kepadaku.
             Diumur kandunganku yang masih terbilang sanggat muda, aku harus berjuang menahan batinku agar tetap terus berbahagia melawan kesedihaan dihari. Ku rasa tak ada keharmonisan lagi antara aku dan Hilal, tak ada kemesraan lagi disaat kita jalan berdua. Entah siapa yang berubah entah apa yang menyebabkan kita berubah. Setiap kali ku ingin bermanja dengannya, Hilal selalu menolak dan memilih untuk menghindariku. Sikap Hilal ini menimbulkan seribu Tanya didalam batinku.
            Pagi ini Hilal berangkat lebih awal ke kampus. Sebelumku terbangun Hilal sudah siap-siap untuk berangkat kuliah.
Hilal : “ say aku berangkat dulu “ dan dia mengecup manis keningku disaat aku masih tertidur. Meski ku tertidur ku tetap mendengar suami ku berbicara. Ku sengaja tidak membangunkan diri dan berpura-pura tertidur.


 Bersambung.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacitan

RAHASIA

GAGAL SEMERU