Bandara Udara dan Sebuah Rasa

Dan lagi ini sudah menjadi takdir, tak ada kemampuan untuk melawan ataupun mencoba menghindarinya.
apa yang kamu fikir ?
apakah fikiran itu juga yang aku fikir ?
jika rasa masih menjadi suatu rahasia, bagaimana kalau kita coba menyapanya agar bahasa menyapa.

Siang sudah pasti kan berganti malam,
sedangkan cintamu ? apa masih sama meski sudah tak saling bertatap muka.

musuh terbesar kita hanya egois yang kita ciptakan sendiri, merasa jika itu adalah zona nyaman.

Tak ada yang dapat ku lakukan selain mendoakan setiap langkah-langkahmu,
karna ini bukan sekedar perasaan,
ini tentang semua anganmu
ini tentang semua cita-citamu
ini tentang semua ambisimu
dan ini adalah tentang hidupmu...

banyak tanya yang belum kita jawab bersama, apakah (masih) dapat terjaga ?
bertahun tahun kita nikmati bergantian datang dan pergi, tetap saja dirimu masih disini. terkunci rapih..
padahal, yang kau buat tak lebih baik dari mereka yang coba datang untuk mendekat walau tak menetap.

kamu sebuah khayal yang nyata,
indah yang tak sama,
mimpi yang terjadi,
dan... suatu ketidakmungkinan yang selalu disemogakan.

pada pagi itu, dengan laju kuda besi ku pacu dengan kecepatan yang tak kencang.
membendung airmata yang sudah ingin mendobrak keluar.
Bandara, yaa... bandara.
ingatkah saat 2 tahun lalu, kita pernah disini dengan juga tangisan ku membiarkan mu pergi jauh hingga membentang jarak Jakarta - Jerman.
sanggat berharap pulang membawa segala rasa yang utuh tanpa tersisa.
saat ini pun sama, masih dengan tetesan airmata yang selalu terjatuh karna ambisimu
namun bedanya, ku tak berharap rasa itu kan utuh.

sedang aku disini, ditempat yang biasa kita habiskan malam bersama.
mencoba memberanikan diri untuk menatap kesetiap sudut kota jogjakarta..

kota yang akan tetap istimewa meski tak bersamamu
kota yang akan tetap ramah hangat akan sapaan khasnya, meski tak dengan suaramu lagi..



Seperti tulisan dibajumu
takkan pernah berhenti keliling indonesia
Perjalanan panjang dari tahun ketahun
yang telah selesai kita lewati tanpa meruba rasa
Kita telah terbiasa menikmati jarak
Perlu berjam-jam untuk akhirnya bisa kita bertemu
Perlu menghitung bulan untuk bisa saling bercerita tatap muka
Meski telah terbiasa.....
Kali ini jauh terasa berat
dan sekarang tiba juga pada pencapaian terbesarmu
Cita-Cita yang sudah kau genggam
Entah berapa purnama yang kan menanti
Atau mungkin terhenti pada masa ini
Esok kita pasti bahagia dengan cara dan jalan masing-masing
"Selamat bertugas di Negri yang mungkin tak bisa ku singgahi"..


Yogyakarta, 02 Desember 2017



2012-2017






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pacitan

RAHASIA

GAGAL SEMERU